Senin, 13 Juni 2011

Semangat itu Muncul Lagi

Menulis puisi, sebuah hal yang sangat menarik buatku
Goresan pertama terjadi saat aku kelas 2 SMP, dimana aku mulai mencari jati diri serta bakat ku berada. ku coba segalanya hingga aku temukan bahwa puisi mungkin bisa menjadi bakatku.

Hari-hari berikutnya aku mencoba untuk menuliskan apa yang aku lihat dan aku rasakan, mencoba memadu kata dari kenyataan asli dan sebuah perumpamaan. maka semakin banyaklah karya tulisan yang sudah aku tuangkan dilembaran kertas putih milikku.

Ayah berkata, ia menyuruhku untuk mengirim puisi-puisi itu ke koran Pontianak Post yang setiap hari minggu memuatkan apresiasi dari orang-orang dan yang dimuat akan mendapatkan honor, ya, tidak banyak tetapi cukup untuk menambah semangat. ^_^

Hasilnya, tidak sia-sia, untuk pertama kalinya pada 20 April 2008, puisiku yang berjudul "IBUKU" dimuat dikoran itu. Sungguh senang sekali perasaan ku kala itu.

Setelah itu, tidak ada lagi nama Nur Indah Permatasari yang dimuat dikoran, dimana puisi-puisi ku yang lain? mengapa tidak dimuat lagi? apakah puisi-puisi ku yang lain itu tidak bagus? baik, aku akan bersabar.

Akhirnya, pada 14 September 2008, puisiku dimuat lagi. berjudul "MANUSIA".
dan tak kusangka, pada 12 Oktober 2008, puisiku dimuat untuk yang ketiga kalinya berjudul "LANGIT MALAM".

Namun, entah mengapa, pada hari selanjutnya aku merasa malas untuk kembali menulis dan menulis, aku merasa tidak sempat setiap saat aku ingin menulis.
Aku vakum. Aku meninggalkan kertas dan pensilku selama 2 tahun.

Sekarang aku sudah kelas 1 SMA.
2 Bulan yang lalu, kelasku kedatangan seorang penulis yang mengatakan bahwa ia bisa kaya hanya dengan menulis ( cerpen, puisi, opini, buku, dll ). banyak diantara teman-temanku yang tergiur dengan hasil yang diperoleh dari menulis yaitu uang. namun itu tidak bagiku. hanya sebuah gambaran masa lalu yang terlintas di pikiranku bahwa dulu aku juga senang menulis puisi.

Malamnya, aku mendengar curhat dari seorang temanku bahwa ia bertengkar dengan sahabatnya, membuat ia merasa tidak punya teman lagi, merasa bingung harus bercerita dengan siapa, dan merasa terharu karena aku mau mendengarkan kesedihannya.
Setelah semua ia tuturkan, aku mendapatkan inspirasi puisi yang harus segera aku tuangkan dikertas, jangan sampai ia menghilang. yup..

Tersenyumlah

Kata demi kata ia rangkai
Ia susun dalam kisah sedihnya
Ia siram semua itu dengan air matanya
Kutampung tangisannya dengan mendengarnya

     Paku telah menusuk hatinya
     Menembus semua relung jiwanya
     Hatiku pilu memandang semua itu
     Teman, tak seharusnya ini terjadi padamu

Dimana sahabatmu yang lain?
Mengapa mereka mencampakkan senyumanmu?
Seburuk itukah dirimu di mata mereka?
Apakah benar hanya aku yang tersisa di harimu?

     Jika memang semua itu benar
     Aku akan berjanji untuk hidupmu
     Akan kucari dimana senyumanmu terpendam
     Akan kutemukan dan kuberikan padamu

Setelah kesenangan itu kembali
Berikan aku kecerahan wajahmu
Walau langin gelap tak berbintang
Berjanjilah untuk selalu tersenyum

OLEH : Nur Indah Permatasari


Begitulah isi puisi tersebut, segera aku kirimkan melalui email ke pontianak post bersama puisi-puisi lain yang juga sudah aku tulis sebelumnya, berharap akan dimuat lagi.

Pada 22 Mei 2011, nama Nur Indah Permatasari ada di koran itu dengan puisinya yang berjudul "TERSENYUMLAH".
Terima kasih buat Liendiani Ikke Pratiwi, karena ceritamu, puisiku dimuat.
Lain kali, cerita-cerita lagi ya, berikan aku banyak inspirasi untuk menulis lagi. :-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for your attention to read my blog article.
Please leave your comment here. ^_^